Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Agustus 2011

Warga Sindangwangi Temukan Patilasan Kiansantang

Sindang Wangi (Sinar Media)


Sekelompok warga yang mengatasnamakan komunitas sanggar Pandan Wangi dari desa Jeruk Leueut Kec. Sindangwangi, belum lama ini telah menemukan salah satu situs sejarah berupa patilasan berupa batu besar yang diduga kuat milik prabu Kiansantang yang merupakan putra dari Prabu Siliwangi.
Lokasi patilasan tersebut terletak di atas bukit lingga tepatnya berada di blok Paningkiran desa Cangkoak Kec. Dukupuntang Kab. Cirebon, walaupun lokasinya berada di kabupaten tetangga namun sanggar Pandan Wangi sebagai penemu pertama kali kini tengah melakukan penataan disekitar situs. Selain itu warga juga menemukan goa yang diyakini merupakan goa kemulyaan dan konon lorong goa bisa tembus keempat penjuru dunia.


Keanehan lainya batu yang sudah berusia ratusan tahun ini selalu ditetesi air, namun walau batu tersebut terus tertesi air permukaan batu tetap rata. Pepatah yang sudah dikenal Cikaracak ninggang batu laun-laun jadi legokseolah tidak berlaku pada batu yang satu itu. Dan keanehan yang terkahir yakni terdapat batu yang dinamakan warga sebagai batu perundingan, batu besar seukuran dua lingkaran orang dewasa itu tampak rata terbelah seperti telah dibelah oleh samurai yang panjang.
“Kami percaya bahwa batu tersebut merupakan sebuah meja sewaktu perundingan atau musyawarah, ketika prabu Kiansantang dan rekannya Nyimas Pangkuwati, Nyimas Gandasari termasuk Syekh Syarif Arifin yang makamnya ada di desa Sindangwasa Kec. Palasah menyusun strategi untuk menyebarkan ajaran Islam di wilayah tiga Cirebon,” ungkap kuncen setempat, Darsono saat ditemui Sinarmedia belum lama ini.
“Logikanya adalah mengapa dulu ada orang yang mau susah payah menaiki bukit ini, hanya untuk membelah sebuah batu, jika tidak ada maksud tujuannya?” Ungkapnya secara retorik.
Seorang warga asal Rajagaluh, lulusan filsafat sejarah, yang datang ke lokasi bersama wartawan Sinarmedia, M. Nurchozin mengatakan, penemuan patilasan di bukit Lingga itu mungkin merupakan rangkaian sejarah yang hilang, yang sedang dicari-cari para sejarawan.
“Kalaulah memang ada tiga keajaiban batu yang tidak masuk akal secara logika. Batu yang hampir jatuh namun tetap kokoh berdiri, batu yang tetap utuh setelah ditetesi air selama ratusan tahun dan batu musyawarah yang seperti bentuk meja yang terbuat dari kayu, hanya saja tidak rata. Mungkin itu merupakan sejarah yang perlu dikaji dan dipelajari kembali, dan memungkinkan untuk dicatat dalam dokumentasi sejarah.”  Ujarnya.
Ketua Sanggar Pandan Wangi, Sanenta mengatakan, pihaknya bersama rekan-rekannya merupakan sekelompok orang yang ingin peduli dan didukung sepenuhnya oleh sebagian besar warga Cangkoak untuk melestarikan patilasan di bukit Lingga ini. Dengan tujuan supaya orang tahu dan mengenal bagian sejarah yang hilang.
“Supaya mereka tahu kebenaran sejarahnya dan supaya orang lain mengetahui. Bahwa ada patilasan bersejarah di perbatasan Majalengka dan Cirebon ini. Meskipun belum terpublikasi, namun, kabar dari mulut ke mulut yang pernah berkunjung ke buklit ini yaitu dari Sumedang, Indramayu dan Majalengka terkadang ada yang datang ke sini sekedar untuk kemping. Warga dan kasepuhan tidak melarang, akan tetapi mereka yang berkunjung itu tidak dibolehkan mandi di tujuh sumber mata air, yang tidak pernah kering meski sedang kemarau panjang . Pernah ada lima pemuda yang kemping dan mereka mandi di salah sumber mata air ini, besoknya mereka ditemukan telah meninggal. Itu sudah lama, beberapa tahun yang lalu.” Ungkap Sanenta yang akrab dipanggil Aung, warga Sindangwangi itu.
Lebih lanjut Aung mengatakan, dalam satu bulan ini, Sanggar Pandan Wangi bersama warga Cengkoak telah mencoba untuk membangun jalan menuju puncak yang berjarak 20 meter dari sumber mata air yang ada tujuh itu dengan dana swadaya. Selain keanehan batu, di puncak itu ada sebuah goa yang diyakini sebagai tempat penyimpanan harta karun.
“Kita tidak tahu pasti, akan tetapi jika daerah ini menjadi obyek wisata ziarah, mungkin itulah harta karun yang dimaksud. Apakah cerita yang kami dapat dari nenek moyang secara lisan itu adalah benar adanya, kami belum tahu. Yang jelas, kami membutuhkan bantuan dari berbagai kalangan, baik itu yang berada di daerah Kabupaten Cirebon maupun Kab. Majalengka. ” Tambahnya.
Salah seorang kuncen lainnya, Sumana mengatakan, sepanjang pengetahuanya  patilasan ini sudah ada sejak 1518 M. Hanya saja mustahil jika memang ada harta karun di sini.
“Yang kami tahu, goa ini dulunya adalah semacam goa kejayaan, semacam lorong waktu yang bisa tembus ke empat penjuru dunia yaitu Mekkah, Garut, Ciremai, Pajajar dan Keraton Cirebon. Akan tetapi kita pun belum tahu pasti kebenarannya. Wallahu A`lam Bisshowab.” Ungkapnya.
Kepala desa Cangkoak, Maskana mengatakan mayoritas warga sangat menginginkan adanya pembangunan untuk penataan di bukit Lingga ini. Hanya saja kami terkendala dana. Kami tidak akan merubah posisi batu atau hal lainnya, hanya saja kami ingin menjadikan daerah ini sebagai obyek wisata ziarah yang patut mendapat tempat untuk dikunjungi, karena bagaimanapun juga, hal ini bisa jadi merupakan rangakaian sejarah yang belum terdokumentasikan.
“Kita sudah mengajukan ke pemda Cirebon namun jika melihat dari sejarah, sepertinya ini tidak saja menyangkut wilayah, akan tetapi menyangkut nilai sejarah yang belum terdokumentasikan. Karena itulah kita sedang mencari dana dan donatur. Dan sekarang kita sedang butuh dana. Dari dinas provinsi Jawa Barat bidang Kepurbakalaan, dulu pernah ada meninjau ke sini tahun lalu. Akan tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjutnya.“  tambahnya. (Erik)

Jumat, 12 Agustus 2011

Kian Santang 4


Pada suatu saat Kian Santang menceritakan pengalamanya kepada Baginda Ali. Dan bertanya tentang tujuh suara yang didengarnya didalam perjalanan.
“Manusia memiliki tujuh lubang hawa nafsu. Dialah yang setiap saat menarik-narik kita untuk berbuat dosa, ketujuh lobang itu adalah mata, hidung, mulut, telinga, tangan, kaki, dan hati,“ Baginda Ali menjelaskan.
Kian santang mengangguk-angguk, meresapi penjelasan tersebut. Demikian Kian Santang menanyakan berbagai persoalan, dan teranglah hatinya manakala satu persoalan telah dibahas oleh Baginda Ali.**

Pada suatu hari, ketika Kian Santang telah merasa cukup berguru, dia permisi mohon pamit untuk kembali ketanah Jawa. Baginda Ali membekali dua macam barang. Yakni kitab Al-Quran dan sebuah untaian tasbih. Baginda Ali pun memberi wasiat bahwa Kian Santang harus menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa.
Dengan ijin Allah, setelah membaca basmallah dan memejamkan mata, Kian Santang telah sampai di tanah Jawa, di negerinya yakni Kerajaan Pajajaran.

Ayahanda, Prabu Siliwangi tentu saja amat gembira melihat kedatangan putra tercintanya. Kian Santang disambut dengan suka cita, bahkan diadakan pesta meriah. Berbagai makanan dihidangkan. Bermacam kesenian ditabuhkan. Kian Santang tidaklah setuju dengan penyambutan seperti ini. Tapi dia tidak bisa mencegah kehendak ayahandanya. Dia khawatir ayahnya akan tersinggung dan luapan kegembiraannya terganggu.

Ketika pesta berakhir, Kian Santang di panggil ayahnya.
“Berceritalah anakku, apa yang engkau bawa dari negeri Mekah? Apakah engkau berhsil bertemu dengan Baginda Ali?” tanya Perabu Siliwangi.

“Alhamdulillah, Ayah! Ananda membawa mutiara yang tak ternilai harganya,”jawab Kian Santang. “Mutiara! Mutiara apakah gerangan? Dan mengapa kata-katamu menjadi aneh?” Sang perabu tampak keheranan.
“Inilah mutiara yang kumaksud, Ayah! ”jawab Kian Santang seraya menyondorkan Al-qur’an. “Kitab apakah ini?” Sang perabu semakin penasaran.
“Ananda telah memeluk agama Islam, Ayah. Inilah kitab Al-Qur’an yang berisi ayat-ayat Allah, petunjuk untuk mencapai ketenangan dunia dan akhirat,” jawab Kian Santang dengan penuh keyakinan.

Seketika muka Sang Prabu merah padam. Dia menjadi murka mengetahui anaknya telah berpindah agama.

“Aku merestuimu bukan untuk menjadi orang sesat seperti ini!’ bentaknya penuh kemarahan.” Bukanya kepergianmu untuk mencari kesaktian?”.
“Kesaktian diri tidak terletak pada kedigjayaan yang kita miliki, Ayah. Manusia adalah makhluk lemah dan hina, hanya Allah pemilik segala kekuatan.” Kian Santang tetap bersikap tenang.
Aku tak ingin mendengar kata-katamu. Enyalah jika engkau tetap memeluk agama itu!” Sang prabu bangkit sambil menunjuk –nunjuk anaknya.
“Tidak, Ayah! Ananda ingin mengajak Ayah memeluk agam Islam. Dewa yang kita sembah selama ini Tuhan ciptaan manusia. Tuhan sesungguhnya adalah Allah, pencipta langit dan bumi.” “Kau telah menghina agama nenek moyangmu! Pergilah1 Aku mengusirmu dari keraton, bahkan dari negeri Pajajaran!” suara Sang Prabu semakin meledak makin geram.

“Baiklah, Ayah! Tapi ananda tidak akan pergi dari Pajajaran, sebelum rakyat memeluk agama Islam!” jawab Kian Santang lalu memohon pamit pada ayahnya.
Negeri Pajajaran segera terguncang. Berita agama baru yang dibawa Kian Santang telah menyebar kesluruh penjjuru negeri. Tidak sedikit diantaranya rakyat yang merasa penasaran, lalu diam-diam memeluk agama Islam.

Dalam waktu singkat, hampir seluruh rakyat menjadi pengikut Kian Santang. Hanya para pengikut setia Prabu Siliwangi yang masih memeluk agam nenek moyamg mereka. Dalam keadaan yang makin memanas, terjadilah hura-hura. Perang antara pengikut Kian Santang dan pengikut setia ayahnya, Prabu Siliwangi.

Karena dengan kekuatan yang tidak seimbang, Prabu Siliwangi yang hanya diikuti 40 orang prajurit, melarikan diri dari keraton. Pengejaran segera dilakukan. Pasukan Prabu bergerak menghindar kearah barat, sehungga sampai di Ujungkulon. Ditempat inilah mereka terkepung.

Konon menurut cerita, dalam keadaan terdesak, Prabu Siliwangi ngahiang, menghilang tanpa jejak di suatu temat di Ujungkulon. Tempat ngahiang tersebut kini dikenal dengan sebutan Sanghiyang Sirah. Sementara pengikutnya berjumlah 40 orang berganti wujud menjadi harimau. Itulah sebabnya, hingga kini di Ujungkulon jumlah harimau konon tetap berjumlah 40 ekor.

Kian Santang 3


Baginda Ali tidak memiliki kesaktian apapun!” kata suara yang lain.
Kian Santang menoleh kearah bawah. “Sia-sialah engkau pergi kenegeri Mekah. Kembalilah sebelum engkau menyesal!” kata suara yang lain. Kian Santang menoleh kearah dirinya sendiri.
Tak ada siapapun yang dia lihat. Hanya ombak bergelombang da hamparan laut yang luas membiru disekelilingnya. Suara siapakah gerangan? Mungkinkah suara Dewa? Benarkah aku ynag paling sakti di dunia?
Kian Santang dimasuki kegemangan. Langkahnya terhenti sesaat. Pikiranya mulai ragu, apakah dia akan melanjutkan perjalannya atau harus kembali kenegerinya. Tapi secepat itu dia ingat nasihat Resi Guru, bahwa suara-suara itu godaan terhadap keteguhan niatnya. Maka tenaglah kembali pikiran Kian Santang. Ia kembali melanjutkan perjalanan.

Tibalah di negeri Mekah. Orang yang pertama dijumpai adalah seorang kakek tua yang sedang berteduh dibawah pohon kurma, di padang pasir. Pakainnya amat sederhana, mengenakan baju gamis Arab yang agak kumal. Tetapi kakek itu nampak tenang. Kumis dan janggutnya telah memutih seluruhnya. Tangannya memegang sebuah untaian tasbih, sementara bibirnya tak henti bergerak-gerak, entah sedang membaca apa.

Bertanyalah Kian Santang kepadanya:
“Kek, dimanakah tempat tinggal Baginda Ali?”
Kakek itu tidak segera menjawab. Diperhatikannya Kian Santang baik-baik.
“Siapakah engkau, Nak?” tanya serayu mengerutkan dahi.
“Aku Kian Santang dari Tanah Jawa. Aku ingin mengadu kesaktian dengan Baginda Ali!” jawab Kian Santang yakin.
“Oh…! Mari ikut aku!” kata kakek itu sambil beranjak.
Mereka lalu pergi dari tempat itu. Tetapi baru beberapa saat aja, kakek tua itu menoleh kebelakang.

”Oh tongkatku ketinggalan, Nak. Bisakah engkau mengambilnya?”
Kian Santang mengangguk, lalu kembali ketempat tadi. Dilihatnya tongkat itu menancap ditanah, didekat pohon kurma. Kian Santang mengambilnya. Tapi tongkat itu tidak tercabut. Kian Santang mengerahkan tenaganya. Di pegang kuat-kuat dan di cabutnya dengan seluruh kekuatan. Tongat itu tidak terangkat sedikitpun. Kian Santang mulai berkeringat. Dicobanya kembali mencabut tongkat itu. Kini ia membacakan mantra dan jampi-jampi kesaktiannya. Tapi bukan tongkat yang tercabut, bahkan kakinya yang amblas kedalam tanah. Makinkeras dia mencabut tongkat, makin dalam kakinya amblas kedalam tanah.

Kian Santang putus asa dan dia merasakan adanya keanehan. Sementara kakek tua berada disampingnya. Kini Kian Santang yang memperhatikan baik-baik kakek tua itu. Ditatapnya dari ujung rambut hingga keujung kaki. 
“Siapakah kau sesungguhnya, kek?” tanya Kian Santang terengah-engah. Kakek tua itu
tersenyum penuh arti. Wajahnya tampak bersih bersahaja dan amat menyejukan.
“Akulah Baginda Ali yang kau cari!”
Bukan main kagetnya kian santang. Tubuhnya lemas seketika. Hilang segala daya dan kekuatan yang dia miliki selama ini. Dialah orang yang paling digjaya ditanah Jawa, tapi dihadapan baginda Ali dia bagaikan sebutir pasir dipadang pasir.

Baginda Ali segera mengangkat tubuh Kian Santang, dan tongkat itu dicabutnya dengan sangat mudah sekali. Kian Santang lalu bersujud di hadapannya.
“Hamba menyatakan takluk, dan menyerahkan diri kepadamu, baginda!” kata Kian Santang takzim.
“Berserah dirilah kepada Allah, bukan kepada ku. Dialah pemilik segala kekuatan. Allah yang maha gagah dan maha perkasa!”
Suara Baginda Ali seperti bergema , mengalun jauh kerelun-relun hati kian santang yang paling dalam.

“Manusia tidak memiliki daya dan kekuatan apa-apa, kecuali Allah. Dan ilmu Allah, andai saja air lautan dijadikan pena untuk melukisnya, maka tidaklah akan mencukupi. Ilmu yang kita miliki, hanya setetes saja dari luasnya lautan ilmu Allah lihatlah, bagaimana Allah menghamparkan bumi dan meninggikan langit, sanggupkah kita memikirkanya?”

Mendengarkan kata-kata itu, tubuh Kian Santang benar-benar bergetar. Ia tak tahan menahan gejolak perasaan yang berkecambuk didalam dadanya. Dan ia menangis tersedu-sedu. Tak terasa panas udara padang pasir, karena kesejukan Baginda Ali yang meresap kedalam kalbunya.

“Dapatkah hamba berguru pada Baginda?” tanya Kian Santang kemudian.
“Masuklah kedalam agama Islam” jawaban Baginda Ali.
“Bagaimana caranya?”
“Ucapkan dua kalimat pengakuan, asyhadu anla ilaha illallah, wa asyhadu anna muhamamadar rasullah”
Diulangi kalimat itu beberapa kali, lalu dituntutnya Kian Santang untuk mengucapkanya
Kian Santang telah masuk islam. Agama yang paling sempurna yang diturunkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Sejak itu Kian Santang tinggal di negri Mekkah. Berguru kepada Baginda Ali dan mempelajari berbagai ilmu agama islam. Dibacanya Al-Qur’an setiap malam dan direnungkan mutiara yang terkandung didalamnya. Betapa Kian Santang merasakan kesejukan luar biasa setiap kali menghayati tiap-tiap mutiara ayat tersebut. Dadanya penuh seraya ikhlas menyarahkan diri seluruhnya kepada sang pencipta.



Bersambung (Kian Santang 4)

Kian Santang 2


Kian Santang adalah putera Prabu Siliwangi, raja Kerajaan Padjaran yang amat terkenal. Sejak Kian Santang rajin belajar dan berguru kepada para resi, sehingga ia memiliki berbagai ilmu dan kesaktian. Di Pajajaran tak ada seorang pun yang bisa menandingi kesaktiannya.
Tapi Kian Santang tidaklah menjadi sombong dan angkuh. Ia tetap berprilaku sopan dan ramah, rendah hati dan ramah dan suka menolong orang lainyang lemah. Ia begitu dicintai dan dikagumi oleh rakyat Pajajaran.
Kegemarannya mencari ilmu tidaklah surut meski ia telah dewasa dan memilki berbagai kesaktian. Beberapa orang resi dan guru telah didatanginya untuk ditimba ilmu-ilmunya. Hingga suatu saat ia bertemu dengan seorang Resi.

“Kedalaman ilmunya telah cukup, Nak. Kesaktianmu tak ada yang menandinginya. Di Tanah Jawa tak akan ada orang yang bisa mengalahkan kesaktianmu. Tapi ada orang yang lebih sakti darimu, “kata sang resi.
“Siapa dia, Resi Guru?” sahut Kian Santang terperanjat.
“Jauh sekali, Nak.”
“Aku akan mencarinya, sekalipun diujung dunia. Tunjukan kepadaku, Resi Guru. Aku ingin menguji kesaktiannya. Jika benar ia lebih sakti, aku akan berguru padanya,” kata Kian Santang mantap penuh keyakinan.

“Baiklah, akan kutunjukan . dia berada dinegeri Mekah, Baginda Ali namanya, “jawab Sang Resi. “Baginda Ali?” Mendengar nama itu , bergetarlah seluruh tubuh Kian Santang.
“Dimanakah negeri mekah itu?” “Di ufuk barat, di tempat matahari terbenam, “jawab Sang Resi.

“Seperti apa kesaktian dia? Apakah dia tahan terhadap senjata tajam seperti aku?” tanya Kian Santang penasaran. Sang Resi menggelengkan kepalanya.
“Apakahdia memiliki ilmu napak kancang hingga bisa berjalan diatas air seperti aku?”
Sang Resi kembali menggelengkan kepalanya.
“Apakah dia memiliki aji halimun hingga bisa menghilang seperti aku?”
Sang Resi tetap menggelengkan kepalanya.
“Apakah dia memliki aji geni hingga tahan terhadap api seperti aku?”
Sang Resi tersenyum mendengar pertanyaan Kian santang yang bertubi-tubi itu. Dengan sikap dengan penuh kearifan, Sang Resi menjawab dengan tenang.
“Baginda Ali tidak membutuhkan kesaktian-kesaktin seperti itu, Nak! Yang sakti ucapan dan perbuatannya. Kau akan jatuh tersungkur jika mendengar dia bicara.”
Kian Santang kembali teperanjat. Dia bisa membayangkan bagaimana hebatnya ilmu Baginda Ali, jika ucapannya saja bisa orang jatuh tersungkur.

“Kapan aku bisa menemui Baginda Ali di negeri Mekah, Resi Guru?” tanya Kian Santang dengan suara lemah.  "Tunggulah waktu yang baik. Dengan izin Tuhan , kau bisa menemuinya, “jawab Sang Resi.
Sejak itu Kian Santang dirundung kegelisahantiada tara. Siang dan malam pikirannya tidak tenang. Tidur tak nyenyak makan tak enak. Tak tahan rasanya inginsegera pergi kenegeri Mekah, menemui Baginda Ali.
Kegundahan Kian Santang lama kelamaan diketahui ayahnya, Prabu Siliwangi. Lalu Kian Santang dipanggilnya.
“Mengapa akhir-akhir ini kau begitu murung, anakku? Apa gerangan yang menjadi beban pikiranmu?” tanya Sang Perabu.

”Sembah sujud ananda , Ayah,” sahut Kian Santang seraya memberi sembah pada ayahnya. “Benarlah kata Ayah. Akhir-akhir ini pikiran ananda dirundung kegelisahan.”
“Apa yang terjadi sebabnya, anakku?” sela Sang Perabu.
“Ananda ingin bertemu Baginda Ali , Ayah.”
“Baginda Ali? Siapa dia?”

“Dialah orang sakti. Ucapannya bisa membuat orang jatuh tersungkur.”
“Oh…? Dimana dia?” “Dinegeri Mekah.” “Mengapa kau tidak mencarinya?”
“Resi guru mencegah ananda. Hanya pada saat yang baik, ananda bisa menemuinya. Itulah sebabnya ananda terus gelisah tak tenang pikiran.”

“Turutlah nasihat Resi Guru. Brangkatlah pada saatnya. Jika benar orang sakti bernama Baginda Ali itu ilmunya tinggi, bergurulah kau padanya. Tak ada jarak untuk menuntut ilmu. Capailah dia meski diujung langit.” Sang Perabu menasihati anaknya.

Tibalah pada saat yang ditunggu-tunggu. Resi Guru mengizinkan Kian Santang untuk pergi kenegeri Mekkah. “Tabalah pada godaan yang menghadangmu. Ditengah perjalanan, kau akan mendengar tujuh suara!” Demikian Resi Guru mengingatkan.

Setelah memohon restu dari Resi Guru dan Ayahnya, Kian Santang segera berangkat. Dengan menggunakan ilmu kesaktian napak kancang, dia bisa berjalan dan berlari dipermukaan laut. Tubuhnya ringan, melayang cepat menuju kearah barat, ketempat matahari terbenam.
Ditengah perjalanan, Kian Santang mendengar suara tanpa wujud. Suara itu berasal dari tujuh arah di sekelilingnya.

“Kau sesungguhnya orang yang paling sakti di dunia! Kata suara itu.
Kian Santang menoleh kearah kiri. “Kau memliki ilmu yang sangat ampuh!” kata suara yang lain. Kian Santang menoleh kearah depan. “Kau tak akan tertandingi!” kata suara yang lain.
Kian Santang menoleh kearah belakang. “Baginda Ali tidak sebanding denganmu!”kata suara yang lain. Kian Santang menoleh kearah atas.

Bersambung  (Kian Santang 3)   

Kian Santang 1


Prabu Siliwangi Memiliki beberapa putra dan putri diantaranya adalah Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang keduanya adalah putra dan putri kesayangan sang Prabu, Raden Kian santang terkenal dengan Kesaktiannya yang luar biasa, di dunia persilatan nama Raden Kian Santang sudah tak asing lagi sehingga seluruh Pulau Jawa bahkan Nusantara saat itu sangat mengenal siapa Raden Kian Santang tak ada yang sanggup mengalahkannya bahkan Raden Kian Santang sendiri tak pernah melihat darahnya sendiri.
Raden Kian Santang Putra Prabu Siliwangi terkejut ketika didalam mimpinya ada serang Kakek berjubah yang mengatakan bahwa ada seorang manusia yang sanggup mengalahkannya dan kakek tersebut tersenyum.
Mimpi itu terjadi beberapa kali hingga Raden Kian Santang bertanya - tanya siapa orang itu, dalam mimpi selanjutanya sang kakek menunjuk ke arah lautan dan berkata orang itu di sana …
Penasaran dengan mimpinya Raden Kian Santang meminta Ijin kepada ayahandanya Prabu Siliwangi untuk pergi menuju seberang lautan, dan menceritakan semuanya. Prabu Siliwangi walaupun berat mempersilahkan putranya pergi, namun Ratu Rarasantang adik perempuan Raden Kian Santang Ingin Ikut Kakaknya.
Walaupun di cegah namun Ratu Rarasantang tetap bersikeras ikut kakaknya, yang akhirnya mereka berdua pergi menyeberangi lautan yang sangat luas menuju suatu tempat yang ditunjuk orang tua di dalam mimpinya.
Hari demi hari, minggu berganti minggu dan genap 8 bulan perjalanan sampailah Raden Kian Santang dan Ratu Rara Santang kesebuah dataran yang asing, tanahnya begitu kering dan tandus, padang pasir yang sangat luas serta terik matahari yang sangat menyengat mereka melabuhkan perahu yang mereka tumpangi.
Tiba - tiba datanglah seorang Kakek yang begitu sangat dikenalnya. ya kakek yang pernah datang kedalam mimpinya. kakek itu tersenyum dan berkata Selamat datang anak muda …. Assalamu alaikum ..  Raden Kian Santang dan Ratu Rarasantang hanya saling berpandangan dan hanya berkata aku ingin bertemu dengan Ali, orang yang pernah kau katakan sanggup mengalahkanku.
Dengan tersenyum Kakek itu berkata ” anak muda… Kau bisa bertemu Ali jika sanggup mencabut tongkat ini… kakek itu menancapkan tongkat yang dipegangnya.
Kembali Raden Kian Santang dan Ratu Rarasantang berpandangan dan Raden Kian Santang Tertawa terbahak - bahak…  Hai Orang Tua… DI negeri kami adu kekuatan bukan seperti ini, tapi adu olah kanuragan dan kesaktian, Jika hanya mencabut Tongkat itu buat apa aku jauh - jauh kenegeri tandus seperti ini ???  kata Raden Kian Santang Mengejek.
Kakek itu kembali tersenyum, Anak muda … Jika kau sanggup mencabut tongkat itu kau bisa mengalahkan Ali, jika tidak kembalilah kau kenegerimu anak sombong …. kata orang tua itu lagi….
Akhirnya Raden Kian Santang mendekati tongkat itu dan berusaha mencabutnya… namun upayanya tak berhasil semakin dia mencoba semakin kuat tongkat itu menghujam.
Keringatnya bercucuran, Ratu Rarasantang tampak khawatir dengan keadaan kakaknya tiba - tiba darah di tangan Raden Kian Santang menetes dan barulah dia menyadari bahwa orang tua yang dihadapannya bukan orang sembarangan.
Lututnya bergetar dia merasa kalah Ratu Rara Santang yang terus memperhatikan kakaknya segera membantunya namun tongkat itu tetap tak bergeming, akhirnya mereka mengaku kalah.
Hai Orang tua … Aku mengaku kalah dan aku tak mungkin sanggup melawan Ali, melawan dirimu pun aku tak bisa tapi ijinkan aku bertemu dengannya dan berguru kepadanya.
Kakek itu kembali tersenyum… anak muda, Jika Kau ingin bertemu Ali maka akulah Ali, tiba - tiba mereka berdua bersujud kepada orang tua itu namun tangan orang tua itu dengan cepat mencegah keduanya bersujud. Jangan Bersujud kepadaku anak muda… Bersujudlah kepada Zat yang menciptakanmu yaitu Allah …
Akhirnya mereka berdua mengikuti orang tua itu yang ternyata ALi bin Abu Tholib ke Baitullah dan masuk ke Agama Yang diridhoi Allah yaitu Islam.